Tips Aman Membonceng Bayi dan Balita Naik Sepeda

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Sepeda adalah salah satu mode transportasi yang ideal bagi perjalanan jarak dekat. Selain itu, bersepeda juga menyehatkan tubuh. Bersepeda menjadi hobi yang kerap sulit ditinggalkan. Tapi jika Anda memiliki bayi atau balita, beranikah Anda membonceng mereka dan bersepeda bersama?

Banyak orang tua merasa ragu untuk mengajak bayi atau balitanya naik sepeda. Seyakin apa pun diri Anda atas keterampilan bersepeda yang dimiliki, ada banyak faktor risiko yang mungkin sulit dikendalikan di jalanan.

Membonceng bayi dan balita naik sepeda memang berisiko, tapi bukan berarti tidak boleh dilakukan sama sekali. Supaya Anda bisa membawa bayi atau balita bersepeda bersama dengan aman dan percaya diri, simak aturan-aturan penting di bawah ini.

Bayi atau Balita Bisa Dibonceng Sejak Usia Berapa?

Sampai saat ini tidak ada aturan resmi kapan anak boleh naik sepeda bersama orang tuanya. Satu hal yang pasti, pada saat Anda ingin membawa anak bersepeda pastikan ia telah cukup kuat dan mampu duduk tegak tanpa dibantu. Pastikan juga anak Anda mampu tak bersandar dalam waktu cukup lama. 

Jika leher dan punggung anak Anda belum cukup kuat untuk menopang tubuhnya, jangan membonceng dia. Sebab, saat duduk di kursi boncengan, ia harus bisa menahan punggung dan lehernya agar tidak terbentur atau jatuh.

Biasanya perkembangan tulang dan otot bayi sudah cukup baik pada usia satu tahun. Bayi berusia satu tahun umumnya sudah mampu mengendalikan otot dan refleksnya saat duduk tegak di boncengan. Namun, sebaiknya Anda juga menilai sendiri kemampuan dan perkembangan bayi Anda.

Selain karena perkembangan tulang dan otot bayi belum sempurna, tidak ada helm yang dirancang untuk anak di bawah usia satu tahun. Lingkar kepala bayi berusia di bawah dua belas bulan biasanya berukuran kira-kira 40 sentimeter. Sementara, ukuran helm yang paling kecil hanya bisa dipakai untuk anak dengan lingkar kepala 46 sentimeter. Ukuran helm yang tidak pas bisa melukai kepala bayi dan balita.

Cara Membonceng Bayi dan Balita yang Aman

Kalau bayi atau balita Anda sudah cukup besar dan siap untuk dibonceng naik sepeda, perhatikan beberapa hal berikut ini agar perjalanan Anda dan si kecil tetap aman dan nyaman.

1. Selalu pakai helm

Berapa pun usianya, selalu pakaikan helm yang sesuai dengan bentuk dan ukuran kepala anak. Sebagai teladan, Anda juga harus memakai helm untuk menghindari risiko cedera. Sebelum berangkat, pastikan helm telah terpasang dengan benar dan nyaman. Memakai helm mampu mengurangi risiko cedera pada kepala hingga 88%.

2. Pilih boncengan khusus bayi dan balita

Jangan mengandalkan boncengan bawaan sepeda Anda. Cari boncengan khusus bayi dan balita yang ada sandaran punggung dan pijakan kakinya. Dengan begitu, anak Anda tidak akan jatuh dan kakinya tak akan menyenggol sepeda. Saat ini banyak boncengan yang tersedia, baik yang dirancang untuk diletakkan di depan maupun di belakang sepeda. Anda bisa memilihnya sesuai kenyamanan dan kebutuhan si buah hati. 

3. Hanya orang dewasa yang boleh membonceng

Ketika membonceng bayi dan balita, pastikan Anda sendiri sudah mahir bersepeda, cukup percaya diri, dan tidak mudah panik. Oleh karena itu, sebaiknya Anda tidak membiarkan anak berusia 12 tahun atau remaja membonceng anak Anda. Pada kebanyakan kasus, anak dan remaja belum memiliki refleks dan koordinasi yang sempurna, meskipun mereka sudah terbiasa naik sepeda juga.

4. Cari rute yang paling aman

Hindari jalan raya yang ramai, jalan berbatuan yang licin atau kasar, rute yang berbukit-bukit, atau rute yang banyak tikungannya. Pastikan juga bahwa Anda tetap bersepeda dalam lajur yang benar, jangan terlalu ke tengah. Kalau bayi atau balita Anda mudah rewel, sebaiknya Anda juga tidak bersepeda terlalu jauh.

5. Hindari bersepeda di malam hari

Meski di lingkungan tempat tinggal Anda penerangan jalan cukup membantu, sebaiknya jangan mengambil risiko. Pasalnya, walaupun Anda bisa melihat jalan dengan jelas, pengendara atau pengguna jalan lain mungkin tidak melihat sepeda Anda. Bayi dan balita juga cenderung lebih moody di malam hari karena sudah lelah.

6. Ajak anak bicara selama bersepeda

Naik sepeda dengan angin yang sepoi-sepoi bisa membuat anak mengantuk. Kalau tertidur, anak bisa mudah terbentur atau jatuh. Maka, usahakan untuk mengajak anak berbicara atau bernyanyi supaya tidak mengantuk. Bersepeda bersama juga bisa menjadi kesempatan baik untuk membangun komunikasi dengan si kecil.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cari Tahu Gejala, Penyebab dan Pengobatan untuk Sakit Pinggang

Sakit pinggang adalah keluhan yang umum dengan banyak kemungkinan penyebab. Cari tahu gejala, pengobatan, dan cara mengatasi nyeri pinggang di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

Katanya, sengatan lebah bisa bikin seseorang meriang dan panas dingin. Lalu bagaimana cara pertolongan pertama dalam mengobati sengatan lebah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

perut kosong hindari makan pedas dan asam

Kenapa Makanan Pedas Tidak Boleh Dimakan Saat Perut Kosong?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 30 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
Konten Bersponsor
keluarga sehat karena melakukan perilaku hidup bersih dan sehat

4 Tips Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Lindungi Diri dan Keluarga di Era New Normal

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
proses inflamasi

Proses Inflamasi Ternyata Penting Bagi Tubuh, Begini Mekanismenya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
memanaskan makanan

Bolehkah Memanaskan Makanan Dalam Wadah Plastik di Microwave?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit