Ketergantungan Pada Pasangan Bisa Memicu Gangguan Psikologis

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Pasangan yang saling mencintai satu sama lain pasti memiliki ikatan batin dan perasaan yang kuat. Setiap hubungan romantis yang terjalin di antara pasangan tersebut membuat ikatan semakin kuat dan diharapkan bisa menjadi akar yang kokoh. Namun bagaimana jika hubungan asmara yang romantis menjadi sumber masalah dari hubungan yang sedang dijalani?

Ternyata, komitmen serta perasaan cinta yang terlalu banyak dicurahkan kepada pasangan dapat menjadi ‘senjata makan tuan’ bagi suatu hubungan. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

RSCE, kondisi psikologis akibat ketergantungan pada pasangan

Terkadang, salah satu atau kedua pihak dari pasangan tersebut terlalu banyak mencurahkan emosi, perasaan, serta semua komitmennya terhadap hubungan asmara yang mereka jalani. Akibatnya, laki-laki atau perempuan tersebut menjadi lebih sensitif dan justru menggantungkan semua harapan serta hidup mereka pada pasangannya. Kondisi ini dapat membuat seorang individu mengalami relationship-contingent-self-esteem.

Relationship-contingent-self-esteem (RCSE) adalah kondisi di mana seseorang baru akan merasa dihargai atau percaya diri jika diberikan pujian serta reaksi positif dari pasangan yang dicintainya. Hal ini tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan mental jika RCSE yang dialami seseorang terlalu tinggi.

BACA JUGA: 5 Manfaat Jatuh Cinta untuk Kesehatan

RCSE bisa menyebabkan seseorang mengalami depresi berat bahkan gangguan mental

Sebuah penelitian dilakukan, berfokus pada bagaimana peran pikiran, emosi, serta perasaan seorang individu dapat mempertahankan suatu hubungan asmara yang sedang mereka jalani. Penelitian ini melibatkan sebanyak 198 pasangan. Mereka diminta untuk mencurahkan perasaan atas semua kejadian yang terjadi setiap harinya selama 14 hari. Dari buku harian tersebut, kemudian peneliti mengetahui perasaan-perasaan apa saja yang ditimbulkan ketika mereka menjalani hubungan asmara.

Lalu, peneliti menyimpulkan bahwa orang yang terlalu mencurahkan semua emosi, perasaan, serta rasa cintanya pada hubungan yang sedang dijalani cenderung mengalami RCSE. Sementara diketahui pula orang yang mengalami kondisi tersebut rentan menjadi depresi berat, tertekan, cemas yang berlebihan yang tentu saja tidak baik bagi kesehatan mental.

BACA JUGA: Mengapa Cinta Membuat Kita Galau?

Apa saja masalah yang dapat timbul jika Anda mengalami RCSE?

Seseorang yang mengalami RCSE sangat tergantung pada pasangannya, sehingga harga diri atau penghargaan untuk dirinya sendiri diperoleh dari perilaku pasangan terhadap dirinya. Jika pasangannya tidak melakukan hal baik atau tidak sesuai dengan harapannya, maka ia akan mengalami stres dan kesedihan yang luar biasa. Tidak hanya itu, RSCE dapat membuat seseorang menjadi obsesif terhadap hubungannya. Sehingga orang yang memiliki sifat ini akan sangat memperhatikan tindakan, perkataan, serta menganalisis semua gerak-gerik pasangannya secara obsesif, dan memaknainya lebih dalam

Orang yang memiliki sifat RCSE yang tinggi juga memiliki komitmen yang tinggi dalam sebuah hubungan. Walaupun begitu, orang yang mempunyai kondisi tersebut mempunyai risiko mengalami depresi berat jika muncul masalah pada hubungan asmara yang sedang dijalani. Seseorang menjadi defensif dan sangat sensitif terhadap setiap masalah yang datang jika memiliki RCSE yang tinggi.

Hal ini akan menjadi kendala besar bagi suatu hubungan. Bahkan orang yang mengalami RCSE sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk ditinggal dan melakukan hubungan jarak jauh. Mereka akan merasa sangat cemas dan tidak aman karena pasangannya jauh dari dirinya.

BACA JUGA: 13 Hal yang Terjadi Pada Tubuh Saat Jatuh Cinta

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Bagi korban KDRT, meninggalkan pasangan yang abusive tak semudah itu. Ini dia alasan korban KDRT bertahan meski hubungannya sarat kekerasan dan kekejaman.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Perceraian memang bukan sesuatu yang tabu. Tapi keutuhan rumah tangga adalah cita-cita banyak orang. Bagaimana cara menghindari perceraian?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Psikologi, Seks & Asmara 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

perut kosong hindari makan pedas dan asam

Kenapa Makanan Pedas Tidak Boleh Dimakan Saat Perut Kosong?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 30 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
pria sulit menangis

Alasan Psikologis Mengapa Pria Lebih Sulit Menangis Dibanding Wanita

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
proses inflamasi

Proses Inflamasi Ternyata Penting Bagi Tubuh, Begini Mekanismenya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Penyebab sakit pinggang

Cari Tahu Gejala, Penyebab dan Pengobatan untuk Sakit Pinggang

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit